Detik Waktumu Adalah Syukurmu

By rosyid on Monday, September 27, 2010
Filled Under: Renungan

jam6f1

Waktu, sesuatu yang selalu berjalan berlalu tanpa peduli dengan apa yang terjadi pada apa yang ia lewati.  Bergerak melaju dengan kecepatan yang relatif terhadap siapa yang melewatinya, ia terasa cepat bagi orang yang tak peduli padanya, ia efektif pada orang yang perhitungan terhadapnya dan ia begitu sangat cepatnya berlalu kepada yang menyia-nyiakannya dengan hal yang tak berguna. Ia tak berwujud bahkan tak dapat diindra, namun keberadaannya begitu terasa dan pengaruhnya begitu besar, namun banyak yang  mengabaikannya hingga pada akhirnya ia menyesal karena tak mencoba berteman dengannya.

Waktu memiliki posisi yang tinggi dalam kehidupan, bahkan lebih tinggi dari apapun didunia ini, tak berguna kekayaan jika waktu tak didapat, tak ada kehidupan jika waktu tak tercipta. Begitu tingginya hingga sang penciptanya berjanji padanya bahwa akan rugi orang-orang yang mengabaikannya. Orang mengatakan waktu itu berputar, namun apakah benar begitu, jika memang waktu itu berputar maka suatu saat kita akan menemui kembali waktu awal kita yang dulu, namun kenyataannya waktu yang telah berlalu tak pernah kembali lagi, itu artinya ia berjalan lurus dan tak pernah kembali menoleh kebelakang.

Kita hidup berjalan sejalan dengan arah gerak waktu, waktu berlalu maka umurpun berlalu. Lalu apa yang telah kita lakukan dalam setiap detik langkahnya, apakah kita diam atau kita ikut bergerak? Apapun itu kita diam ataupun ikut bergerak, waktu akan bergerak dengan langkahnya yang sama dan tak peduli pada apa yang kita lakukan. Sehingga jika kita mau berfikir, maka pada setiap detik yang mampu kita lewati, pada setiap detik yang masih diberikan kepada kita wajib kita syukuri. Detik ini yang kita lewati adalah rizki kita yang diberikan sang pencipta pada detik sebelumnya dan satu detik kedepan adalah rizki yang masih diberikan setelah sedetik yang lalu.

Mensyukuri masa satu detik ?, kenapa begitu ?. Coba kita sedikit berfikir secara ilmiah sedikit, maka dalam waktu satu detik itu banyak hal yang telah terjadi dalam tubuh kita dan mendukung kehidupan kita, diantaranya detak jantung kita yang masih bekerja, mata kita yang masih bisa berkedip, darah kita yang mengalir, sirkulasi udara kita dalam pernafasan, bahkan otak kita yang bekerja…. semua itu bekerja dalam hitungan detik bahkan ada yang lebih cepat lagi, yaitu mata kita saat melihat benda terjadi dalam hitungan kurang dari satu detik, karena kita melihat karena menangkap cahaya dari benda ke mata kita, dan kecepatan cahaya yaitu 300.000 KM/detik. Respon otak kita, respon syaraf kita juga bekerja dalam waktu kurang dari satu detik, itulah kenapa saat kita tertusuk duri kaki kita, maka kita langsung menjerit dan tangan kita langsung memegang bagian yang sakit dalam waktu cepat dalam waktu yang hampir satu detik, jadi responnya tentu kurang dari satu detik itu.  Itulah kenapa kita harusnya bersyukur pada setiap detik kehidupan, bukannya pada waktu-waktu tertentu saja….

Wujud rasa syukur atas waktu adalah bagaimana kita mampu memanfaatkannya secara baik dengan perbuatan yang baik, jadi tak akan ada tempat dan waktu untuk berbuat buruk, jika itu terjadi berarti kita belum mensyukuri nikmat waktu ini….

“Waktu akan terus berjalan meninggalkan kita, ia takkan peduli dengan keadaan kita, terjepitkah?, sedihkah?, terburu-burukah?, menyesalkah?…. karena pada dasarnya mereka ada karena kita yang membuat mereka hadir dalam kehidupan kita….”

FENOMENA AKUSTIK RUANG TERTUTUP

By rosyid on Monday, April 19, 2010
Comments Off
Filled Under: Akustika, Fisika

Dalam sebuah ruangan tertutup, jalur perambatan energi akustik adalah ruangan itu sendiri. Oleh karena itu, pengetahuan tentang fenomena suara yang terjadi dalam ruangan akan sangat menentukan pada saat diperlukan pengendalian kondisi mendengar pada ruangan tersebut sesuai dengan fungsinya. Fenomena suara dalam ruangan dapat digambarkan pada sketsa berikut:

fenomena-suara

Dari sketsa tersebut, dapat dilihat bahwa pada setiap titik pengamatan atau titik dimana orang menikmati suara (pendengar) akan dipengaruhi oleh 2 komponen suara, yaitu komponen suara langsung dan komponen suara pantul. Komponen suara langsung adalah komponen suara yang sampai ke telinga pendengar langsung dari sumber. Besarnya energi suara yang sampai ke telinga dari komponen suara ini dipengaruhi oleh jarak pendengar ke sumber suara dan pengaruh penyerapan energi oleh udara. Komponen suara pantul merupakan komponen suara yang sampai ke telinga pendengar setelah suara berinteraksi dengan permukaan ruangan disekitar pendengar (dinding, lantai dan langit-langit). Total energi suara yang sampai ke telinga pendengar dan persepsi pendengar terhadap suara yang didengarnya tentu saja akan dipengaruhi kedua komponen ini. Itu sebabnya komponen suara pantul akan sangat berperan dalam pembentukan persepsi mendengar atau bias juga disebutkan karakteristik akustik permukaan dalam ruangan akan sangat mempengaruhi kondisi dan persepsi mendengar yang dialami oleh pendengar.

Ada 2 ekstrim yang berkaitan dengan karakteristik permukaan dalam ruangan, yaitu apabila seluruh permukaan dalam ruangan bersifat sangat menyerap dan seluruh permukaan dalam ruangan bersifat sangat memantulkan energi suara yang sampai kepadanya. Bila permukaan dalam ruang seluruhnya sangat menyerap, maka komponen suara yang sampai ke pendengar hanyalah komponen langsung saja dan ruangan yang seperti ini disebut ruang anechoic (anechoic chamber). Sedangkan pada ruang yang seluruh permukaannya bersifat sangat memantulkan energi, maka komponen suara pantul akan jauh lebih dominant dibandingkan komponen langsungnya, dan biasa disebut sebagai ruang dengung (reverberation chamber) . Ruangan yang kita gunakan pada umumnya berada diantara 2 ekstrim itu, sesuai dengan fungsinya. Ruang Studio rekaman misalnya lebih mendekati ruang anechoic, sedangkan ruangan yang berdinding keras lebih menuju ke ruang dengung.

Desain akustik ruangan tertutup pada intinya adalah mengendalikan komponen suara langsung dan pantul ini, dengan cara menentukan karakteristik akustik permukaan dalam ruangan (lantai, dinding dan langit-langit) sesuai dengan fungsi ruangannya. Ada ruangan yang karena fungsinya memerlukan lebih banyak karakteristik serap (studio, Home Theater, dll) dan ada yang memerlukan gabungan antara serap dan pantul yang berimbang (auditorium, ruang kelas, dsb). Dengan mengkombinasikan beberapa karakter permukaan ruangan, seorang desainer akustik dapat menciptakan berbagai macam kondisi mendengar sesuai dengan fungsi ruangannya, yang diwujudkan dalam bentuk parameter akustik ruangan.

Karakteristik akustik permukaan ruangan pada umumnya dibedakan atas:

  • Bahan Penyerap Suara (Absorber) yaitu permukaan yang terbuat dari material yang menyerap sebagian atau sebagian besar energi suara yang datang padanya. Misalnya glasswool, mineral wool, foam. Bisa berwujud sebagai material yang berdiri sendiri atau digabungkan menjadi sistem absorber (fabric covered absorber, panel absorber, grid absorber, resonator absorber, perforated panel absorber, acoustic tiles, dsb).
  • Bahan Pemantul Suara (reflektor) yaitu permukaan yang terbuat dari material yang bersifat memantulkan sebagian besar energi suara yang datang kepadanya. Pantulan yang dihasilkan bersifat spekular (mengikuti kaidah Snelius: sudut datang = sudut pantul). Contoh bahan ini misalnya keramik, marmer, logam, aluminium, gypsum board, beton, dsb.
  • Bahan pendifuse/penyebar suara (Diffusor) yaitu permukaan yang dibuat tidak merata secara akustik yang menyebarkan energi suara yang datang kepadanya. Misalnya QRD diffuser, BAD panel, diffsorber dsb (check www.rpginc.com) .

Dengan menggunakan kombinasi ketiga jenis material tersebut dapat diwujdukan kondisi mendengar yang diinginkan sesuai dengan fungsinya.

Parameter akustik yang biasanya digunakan dalam ruangan tertutup secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu parameter yang bersifat temporal monoaural yang bisa dirasakan dengan menggunakan satu telinga saja (atau diukur dengan menggunakan single microphone) dan parameter yang bersifat spatial binaural yang hanya bisa dideteksi dengan 2 telinga secara simultan (atau diukur menggunakan 2 microphone secara simultan).

Yang termasuk dalam parameter tipe temporal-monoaural diantaranya adalah:

  • Waktu dengung (T atau RT), yaitu waktu yang diperlukan energi suara untuk meluruh (sebesar 60 dB) sejak sumber suara dimatikan. Parameter ini merupakan parameter akustik yang paling awal digunakan dan masih merupakan parameter yang paling populer dalam desain ruangan tertutup. Waktu dengung yang digunakan dalam desain misalnya RT60, T20, T30 (subscript menunjukkan rentang decay yang digunakan untuk mengestimasi peluruhan energinya) dan EDT (yang berbasis pada peluruhan pada 10 dB awal). Parameter terakhir lebih sering digunakan karena mengandung informasi yang signifikan dari medan suara yang diamati. Harga parameter ini akan dipengaruhi oleh fungsi ruangan, volume dan luas permukaan ruangan serta berbeda-beda untuk setiap posisi pendengar. Misalkan untuk ruangan studio perlu < 0.3 s, ruang kelas 0.7 s, ruang konser 1.6 – 2.2 s, masjid 0.7 – 1.1 s, katedral 2 s dsb.
  • Clarity, yaitu perbandingan logaritmik energi suara pada awal 50 atau 80 ms terhadap energi suara sesudahnya. Diwujudkan dalam parameter C80 untuk musik dan C50 untuk speech. Parameter ini berkaitan dengan tingkat kejernihan sinyal suara yang dipersepsi oleh pendengar dalam ruangan. (standard yang digunakan berharga -2 sd 8 dB)
  • Intelligibility, yaitu perbandingan energi awal 50 ms terhadap energi totalnya. Biasa dinyatakan sebagai D50 dan lebih banyak digunakan untuk menyatakan kejelasan suara pengucapan (speech). Harga yang disarankan adalah > 55%. (parameter terkait adalah STI atau RASTI atau %Alcons).
  • Intimacy, yang ditunjukkan dengan perbedaan waktu datang suara langsung dengan pantulan awal pada setiap titik pendengar. Dinyatakan dalam Initial Time Delay Gap (ITDG). Harga yang disarankan secara umum adalah < 35 ms (yang paling disukai 15-20 ms). Nilai tersebut masih dipengaruhi juga oleh cepat lambatnya (rhytm) sumber suaranya..

Yang termasuk dalam parameter type spatial-binaural adalah LEF dan IACC. LEF didapatkan dengan membantingkan pengukuran Impulse Response ruangan menggunakan 2 buah microphone yang diletakkan secara berdekatan, satu microphone dengan patern omnidirectional dan yang lainnya berpola Figure of Eigth. Sedangkan IACC didapatkan dengan pengukuran impulse response menggunakan 2 microphone yang ditanamkan dalam 2 telinga manusia (atau kedua telinga tiruan kepala manusia, dummy head). Dari kedua parameter ini dapat diturunkan parameter envelopment dan lebar staging/sumber (apparent source width).

Konsep diatas biasanya lebih banyak diterapkan dalam ruangan besar. Untuk ruangan kecil seperti studio, sebuah parameter lagi perlu diperhatikan yaitu distribusi modes (frekuensi resonansi) ruangan terutama pada frekuensi-frekuensi rendah .

Link: http: jokosarwono.wordpress.com

KONSEP DASAR AKUSTIK

By rosyid on Monday, April 5, 2010
Comments Off
Filled Under: Akustika

Akustik merupakan satu bidang ilmu yang mempelajari tentang suara atau bunyi yang ditimbulkan dari benda yang bergetar. Apa itu suara? Mungkin pertanyaan ini terkesan konyol, tapi mungkin juga tak banyak orang dapat menjawabnya, kenapa? Suara, ia merupakan sesuatu yang tak asing buat kita, karena dalam kehidupan kita selalu bersinggungan dengan suara (kecuali bagi orang tuli). Suara dapat kita rasakan dan dengarkan, namun keberadaannya tak pernah dapat kita lihat alias tak kasad mata, sehingga akan sangat sulit menerangkan seperti apa gambaran suara itu.

Jadi apa suara itu? Suara atau bunyi dapat didefinisikan sebagai gelombang yang bergerak dalam medium baik gas, cair maupun padat. Untuk menggambarkan rupa dari suatu gelombang bunyi kita dapat melakukan percobaan dengan memberikan usikan pada air atau tali maka akan tampak aliran getaran (energy getaran) yang merupakan gambaran dari bunyi:

puchong-stay-08-017-613

Gambar 1. Usikan Pada Air

Salah satu karakteristik dari fluida, yaitu cairan dan gas adalah kurang bisa dipaksa untuk berubah bentuk. Gelombang suara merupakan tekanan dari getaran yang ditampakkan dalam suatu fluida, dimana ia memiliki analogi dengan gelombang yang ditampakkan pada tali yang diberi usikan (gambar 1). Sehingga apabila kita cermati lebih dalam, gelombang tali maupun gelombang pada air yang merupakan efek getaran (termasuk getaran suara) dapat kita simulasikan dengan konsep getarah harmonic pada pegas yang diayunkan. Ada hubungan yang sederhana namun merupakan hubungan matematis yang penting antara gerak harmonic sederhana dan gerak melingkar dengan kelajuan konstan, hal ini seperti digambarka pada gambar 2:

pegas

Gambar 2.

“Pada suatu garis lurus, proyeksi sebuah partikel yang bergerak dengan gerak melingkar seragam merupakan gerak harmonik sederhana.”

Maka untuk memahami persamaan pada gelombang suara/akustik, kita perlu mempelajari terlebih dahulu mekanisme system pegas (Gerak Harmonik Sederhana):

energi-pegas1

Gambar 3. Sistem Pegas

(a) Pegas bebas Vertikal

(b) Ditambah Massa (m)

∑F = 0

m.g + (- kX0) = 0

m.g – kX0 = 0

m.g = kX0

<!–[if supportFields]> QUOTE <![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–>. ……… (1)

(c) Pegas merenggang oleh massa (m)

∑F = 0

m.g + (- k (X – X0)) = 0

m.g – k (X + X0) = 0

Subtitusi dari persamaan (1), maka:

<!–[if supportFields]> QUOTE <![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–> (Hukum Hooke)

Dari gambar 2 dapat diambil dengan menggunakan persamaan segitiga siku-siku yang membentuk gerak melingkar pada gambar tersebut:

Cos θ = X / A

X = A Cos θ

Tergambar sebuah partikel yang bergerak dengan kelajuan (V) konstan dalam suatu lingkaran berjari-jari A. Kecepatan sudutnya (ω) konstan:

Simpangan sudut partikel relative tehadap sumbu X :

Θ = ωt + σ,

σ: Simpangan sudut pda saat t = 0

X = A Cos θ

X = A Cos (ωt + σ)

Bersambung…….

Artikel Terkait >>>

Sound Mirror

By rosyid on Wednesday, February 17, 2010
Comments Off
Filled Under: Akustika, Fisika

Sound Mirror : Cara Unik Mendeteksi Kedatangan Pesawat


Perkembangan deteksi dengan mengunakan radar kini semakin pesat. Radar dapat mendeteksi suatu benda yang ada dilangit maupun yang ada dibawah air. Pergerakan dan kedatangan suatu benda pun dapat diketahui dengan cepat dengan menggunakan radar.

http://www.blogpopuler.com/wp-content/uploads/2010/02/Sound_Mirrors_12.jpg

Tahukah anda sebelum radar ditemukan dan digunakan, untuk mendeteksi kedatangan suatu benda asing, digunakan sebuah Sound Mirror atau penangkap suara.

Alat ini dulu  banyak digunakan pada perang dunia I dan II untuk mendeteksi atau mengetahui kedatangan pesawat lawan. Kelihatannya aneh dan sederhana tapi manfaatnya tidak diragukan lagi.

Penggunaan Sound Mirror ini diawali dari gagasan oleh Professor Meyer Topophone pada tahun 1879.

Sumber :
www.blogpopuler.com